Dalam sebuah diskusi hangat di acara Obrolan Lifestyle – Nusantara Pagi yang ditayangkan di kanal YouTube RRI Pro 4 Makassar, Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin, M.Sc., seorang pakar ekotoksikologi dari Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Hasanuddin, menyoroti permasalahan serius terkait pencemaran lingkungan di perairan, khususnya di wilayah pesisir.
Ekotoksikologi merupakan gabungan antara ekologi dan toksikologi, yang mengkaji tentang tingkat toksisitas dari suatu bahan yang masuk ke lingkungan. Sederhananya, ekotoksikologi adalah ilmu yang mempelajari dampak negatif bahan-bahan pencemar terhadap lingkungan dan makhluk hidup. Beliau menyoroti tingginya tingkat pencemaran lingkungan bukan hanya dari limbah rumah tangga seperti detergen, tetapi juga akibat dari industri dan perilaku masyarakat.

“Bahan-bahan pencemar ini sangat berbahaya karena sifatnya yang persisten, artinya sulit terurai dan dapat menumpuk di perairan. Jika terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup seperti ikan dan kerang, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan manusia yang mengonsumsinya,” ujar Prof. Khusnul. Sehingga dari hal tersebut, jika pencemaran lingkungan tidak segera diupayakan untuk diperbaiki akan membawa kita jauh ke masalah yang lebih kompleks, yaitu ketahanan pangan.
Perubahan iklim juga memperparah masalah pencemaran lingkungan. Peningkatan suhu air laut dapat meningkatkan toksisitas bahan pencemar dan mengancam keberlangsungan ekosistem laut. “Masa depan masyarakat pesisir sangat bergantung pada keberhasilan kita dalam mengatasi masalah pencemaran lingkungan,” tegas Prof. Khusnul. “Kita perlu bertindak sekarang sebelum kerusakan lingkungan semakin parah.”
Prof. Khusnul menekankan pentingnya peran pemerintah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap pencemaran lingkungan. Beliau juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dengan mengurangi produksi sampah, terutama sampah plastik, serta melakukan pemilihan produk yang ramah lingkungan. “Salah satu contoh upaya yang telah dilakukan adalah pemantauan kualitas air Sungai Tallo. Meskipun masih tercemar, sungai ini memiliki potensi besar untuk dipulihkan dengan bantuan ekosistem nipah yang ada di sekitarnya,” tambah Prof. Khusnul.
Untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan, Prof. Khusnul mengusulkan beberapa solusi, antara lain kolaborasi multipihak untuk mencari solusi komprehensif yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dan organnisasi non-pemerintah. Pemerintah dapat berperan sebagai pengambil kebijakan dan sponsorship, perguruan tinggi berperan sebagai penyumbang ide dan pengetahuan, serta organisasi masyarakat sipil atau NGO berperan sebagai komunikator masyarakat luas. Selain itu pengembangan teknologi ramah lingkungan seperti bioremediasi dan sistem pengolahan air limbah yang efektif sangat penting. Pendidikan mengenai lingkungan yang dimulai sejak dini untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan serta perubahan perilaku dan pola konsumsi masyarakat yang lebih baik juga merupakan solusi krusial yang perlu dilaksanakan.
Adapun siaran lengkapnya bisa diakses melalui link: https://www.youtube.com/live/btlGGMhmvvg