Al Hikmah Institute bekerja sama dengan Center for Eastern Indonesian Studies (CEIS) sukses menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Ekologi Politik dan Etika Keagamaan: Menimbang Peran Nilai Transenden dalam Kebijakan Lingkungan” pada Sabtu, 27 Desember 2025 yang bertempat di Al Hikmah Institute. Kegiatan ini menghadirkan guru besar Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan (MSP) FIKP Unhas, Prof. Dr. Khusnul Yaqin, M.Sc., sebagai salah satu narasumber utama yang membedah konsep ekologi transendental. Selain itu kegiatan ini juga turut menghadirkan Prof. Drs. Wahyuddin Halim, MA, Ph.D yang memaparkan mengenai ekologi perspektif religious studies. Diskusi ini bertujuan untuk menggali peran nilai-nilai spiritual dan filosofis dalam menyikapi krisis lingkungan global yang kian mendesak.

Dalam pemaparannya, Prof. Khusnul menekankan bahwa krisis iklim dan kerusakan alam saat ini bukan sekadar masalah teknis atau kegagalan regulasi, melainkan hasil dari krisis cara pandang manusia. Selama ini, paradigma modern cenderung menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak yang memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi. Peralihan menuju kesadaran ekosentrisme menjadi sangat penting, di mana alam dipahami sebagai satu kesatuan moral yang harus dijaga integritas dan keharmonisannya demi keberlangsungan seluruh makhluk hidup.

Lebih dalam lagi, ia menjelaskan bahwa ekologi transenden menawarkan solusi melalui landasan spiritual, khususnya dalam perspektif filsafat Islam. Mengacu pada pemikiran Mulla Sadra tentang gerak substansial, alam semesta dipandang sebagai manifestasi wujud Ilahi yang bergerak menuju kesempurnaan. Dengan memahami bahwa setiap elemen alam memiliki identitas dan tujuan spiritual, maka tindakan merawat lingkungan tidak lagi dianggap sebagai beban administratif, melainkan sebuah bentuk partisipasi aktif dalam menjaga harmoni kosmik antara Tuhan, manusia, dan alam.

Diskusi yang dipandu oleh Noer Ramadhan La Udu ini diakhiri dengan pesan kuat bahwa kebijakan lingkungan yang efektif hanya dapat terwujud jika didasari oleh transformasi kesadaran manusia. Kepemimpinan ekologis masa depan harus berakar pada nilai-nilai kesalehan yang melampaui ego pribadi. Melalui penguatan identitas yang terhubung dengan semesta, diharapkan pengelolaan sumber daya alam ke depan dapat dilakukan secara lebih etis, adil, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. Hal ini jika diterapkan dalam kegiatan akademik diharapkan mampu memperkuat visi dan misi Program Studi MSP dalam menyelenggarakan pendidikan berbasis ekosistem yang tidak hanya fokus pada aspek biologis, tetapi juga pada kesatuan moral dan spiritual khususnya di wilayah Wallacea. Dengan mengadopsi perspektif ekologi transenden, pengembangan dan sosialisasi ilmu pengetahuan serta teknologi yang dilakukan oleh prodi akan memiliki landasan filosofis yang lebih kuat untuk menjamin keberlanjutan sumber daya perairan.