MAKASSAR — Upaya penyelamatan ikan mikro endemik Oryzias eversi memasuki tahap yang semakin terstruktur melalui kolaborasi sejumlah peneliti dan lembaga konservasi dari berbagai negara. Program ini melibatkan peneliti dari Bonn University (Jerman), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Republik Ceko, Belanda melalui ARTIS, Zoo Augsburg, Zoo Dortmund, serta Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin (FIKP Unhas).

Di lingkungan FIKP Unhas, program tersebut dikoordinasikan oleh Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin, M.Sc. melalui konsep House of Conservation. Konsep ini dikembangkan sebagai pusat pembiakan (captive breeding) Oryzias eversi untuk menghasilkan populasi yang sehat sebelum dilepasliarkan kembali (restocking) ke habitat alaminya di Kolam Purba Tilanga, Kabupaten Tana Toraja.
Gagasan konservasi ini berawal dari keprihatinan Prof. Khusnul Yaqin terhadap semakin sulit ditemukannya Oryzias eversi di habitat aslinya. Spesies tersebut merupakan ikan mikro endemik yang hanya ditemukan di Tilanga dan memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi karena menjadi satu-satunya spesies dalam kelompoknya yang terbatas pada kawasan tersebut.
Inisiatif tersebut kemudian mendapat dukungan dari peneliti Jerman, Julia Schwarzer dan Fabian Herder, yang merupakan tim ilmuwan pendeskripsi (describer) Oryzias eversi. Keterlibatan mereka memperkuat kerja sama internasional dalam penyusunan strategi konservasi berbasis sains.
Sejak program dirintis, para peneliti telah beberapa kali mengadakan pertemuan untuk menyusun peta jalan konservasi, mengevaluasi perkembangan pemeliharaan indukan, keberhasilan reproduksi, hingga merancang strategi pelepasliaran agar populasi ikan di habitat alami dapat pulih secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi lintas negara ini, para peneliti berharap Oryzias eversi tidak hanya terhindar dari ancaman kepunahan, tetapi juga menjadi model konservasi ikan endemik Indonesia yang mengintegrasikan penelitian ilmiah, pembiakan eks situ, dan restorasi populasi di habitat alami. Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati memerlukan sinergi antara perguruan tinggi, lembaga riset, kebun binatang, serta komunitas konservasi internasional.