Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin kembali menunjukkan eksistensi dan kontribusi nyata para akademisinya dalam menjawab persoalan strategis daerah. Guru Besar MSP FIKP Unhas, Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin, M.Sc., hadir sebagai narasumber utama dalam Talkshow eksklusif program Bincang Kota Tribun Timur bertajuk “Makassar Hadapi Perubahan Iklim: Sudah Siap?” yang disiarkan secara langsung, bertepatan dengan momentum Hari Ozon Sedunia

Dalam diskusi interaktif tersebut, Prof. Khusnul sebagai pakar di bidang ekotoksikologi berdiskusi bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Dr. Helmi Budiman, S.STP., M.M., untuk membedah tantangan lingkungan urban, krisis iklim, serta solusi berbasis sains dan teknologi. Sebagai representasi kaum intelektual dan sivitas akademika Unhas, Prof. Khusnul memaparkan sejumlah gagasan mendasar dan solusi taktis untuk menghadapi ancaman perubahan iklim di Kota Makassar.
Beliau menyoroti bahwa krisis lingkungan global dan pemanasan global saat ini berakar dari cara pandang manusia yang antroposentris, yaitu menganggap alam semesta dan isinya semata-mata untuk dieksploitasi demi kepentingan manusia. Beliau mendorong pergeseran menuju konsep ekologi transenden, di mana manusia dipahami sebagai bagian yang setara dari organisasi biologis alam semesta yang berdampingan dengan komponen ekosistem lainnya, termasuk mikroorganisme seperti bakteri. Selain itu, menanggapi persoalan timbunan sampah di TPA Tamangapa, beliau menjelaskan bahwa sampah plastik dan organik sebenarnya adalah sumber daya yang dapat diolah. Dengan teknologi yang tepat, persoalan limbah perkotaan dapat diatasi sekaligus memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat.
Sebagai bentuk mitigasi bencana berbasis bioteknologi perairan, Prof Khusnul mengusulkan inovasi penanaman fitoplankton di atap-atap gedung atau hotel untuk menyerap karbon dioksida secara jauh lebih efektif dibandingkan tanaman darat biasa, sekaligus menghasilkan oksigen serta bahan baku biofuel atau kosmetik (seperti spirulina). Di wilayah pesisir dan perairan, penambahan vegetasi mangrove dinilai sebagai upaya yang tepat karena tidak hanya berfungsi meredam pemanasan global dan menyerap, tetapi juga bertindak sebagai nursery ground (tempat pemijahan dan pembesaran) bagi biota laut bernilai ekonomis penting seperti ikan kakap putih (Lates calcarifer). Beliau juga mengangkat hasil risetnya mengenai Pohon Nipah di Sungai Taluuk yang terbukti efektif menyerap bahan pencemar air tanpa mencemari hasil olahan nira bagi masyarakat setempat, sekaligus mewujudkan industri zero waste.
Prof. Khusnul menegaskan pentingnya kolaborasi erat antara Universitas, Pemerintah, NGO, dan Masyarakat melalui tradisi lokal Tudang Sipulung. Unhas, melalui kepakaran dosen dan pendampingan mahasiswa, menyatakan komitmen penuh untuk membantu pemerintah kota dalam mengedukasi masyarakat dan mengawal implementasi kebijakan lingkungan yang berkelanjutan. Sementara itu, Kepala DLH Kota Makassar, Dr. Helmi Budiman, menyambut baik sinergi bersama akademisi Unhas. Pemerintah Kota Makassar saat ini terus menggenjot berbagai upaya pembenahan, mulai dari revisi regulasi tata ruang (RDTR), penggalakan urban farming terintegrasi pengolahan sampah organik, hingga perbaikan ruang terbuka hijau (RTH) dan infrastruktur kota guna meredam suhu ekstrem serta potensi banjir.