Tim NEXORA dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas) meraih Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana. Tim ini mengusung karya berjudul “BLUE LOOP: Model Ekonomi Sirkular Berbasis Tata Kelola Kolaboratif untuk Pengelolaan Limbah Plastik Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Takalar”.
Tim NEXORA terdiri atas Andi Mulqy Yusuf (mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan), Qhovifah (mahasiswa Teknologi Hasil Perikanan), dan Tristan Ardian (mahasiswa Budidaya Laut dan Pantai, Program Vokasi), dengan bimbingan Dosen MSP, Ibu Asri Yanti, S.Pi., M.Si.

Gagasan BLUE LOOP berangkat dari persoalan limbah plastik budidaya rumput laut di Kabupaten Takalar, seperti botol pelampung dan tali berbahan polyethylene (PE). Melalui model ini, tim menawarkan konsep BLUE CREDIT, yaitu mekanisme insentif untuk mendorong partisipasi pembudidaya dalam mengumpulkan dan mengelola limbah plastik.
“Kami ingin pengelolaan limbah tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi menjadi upaya bersama,” ungkap Mulqy.
Proses penyusunan karya berlangsung lebih dari dua bulan, mulai dari penggalian ide, penulisan naskah, bimbingan dan revisi, hingga persiapan presentasi. Bagi Mulqy, kompetisi ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Ia sempat ragu karena kedua rekannya telah beberapa kali berkompetisi di ajang serupa, tetapi Qhovifah dan Tristan justru mempercayakan posisi ketua kepadanya karena tema yang diangkat berkaitan erat dengan bidang Manajemen Sumber Daya Perairan.
Perjuangan tim semakin terasa ketika perkuliahan mulai berjalan. Mulqy harus membagi waktu antara kegiatan laboratorium, tugas kuliah, dan persiapan lomba, sementara Qhovifah tengah mengikuti kompetisi lain dan Tristan menjalani perkuliahan vokasi di Kabupaten Kepulauan Selayar. Perbedaan lokasi dan jadwal tersebut menyulitkan tim untuk berkumpul, berdiskusi, maupun berlatih presentasi bersama. Tim pun menyiasatinya dengan mengombinasikan koordinasi daring dan tatap muka, menyesuaikan waktu yang memungkinkan, serta menjaga komunikasi di tengah kesibukan masing-masing.
Di balik proses tersebut, peran dosen pembimbing menjadi salah satu kunci keberhasilan tim. Sejak awal, tim mencari pembimbing yang tidak hanya mampu memberikan arahan akademik, tetapi juga terbuka untuk berdiskusi dan antusias mendukung pengembangan gagasan. Asri Yanti, S.Pi., M.Si. dinilai memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui bimbingan, masukan, dan proses revisi yang berkelanjutan, gagasan BLUE LOOP terus disempurnakan hingga siap dipresentasikan di tingkat nasional.
“Saya belajar bahwa menjadi ketua bukan berarti harus menjadi orang yang paling berpengalaman. Seorang ketua juga harus mau belajar, mendengarkan anggota, dan bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang diberikan,” tutur Mulqy.
Tim NEXORA berharap BLUE LOOP dapat terus dikembangkan dan berpeluang diterapkan untuk mendukung pengelolaan limbah plastik budidaya rumput laut yang lebih berkelanjutan. Bagi mereka, raihan ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan motivasi untuk terus belajar dan berkontribusi bagi masyarakat serta lingkungan.